Rabu, 05 Februari 2014

ETIKA BERILMU


Suasana di ruang kuliah, EB. 101 ini begitu pengap dan panas. Entah karena udara pagi ini yang menyengat ke dalam ruangan atau otak penghuni ruangannya yang memanas. Padahal ruangan ini difasilitasi 3 buah AC, masing-masing dipajang di muka dan dua sisi ruangan. Suhu 17ºC. Tetap tidak mempan. Mata kuliah praktikum auditing ini begitu menguras otak. Mata kuliah dua SKS pun serasa empat SKS. Mahasiswa harus berkutat menganalisis laporan keuangan, melakukan penelusuran ke jurnal-jurnal, menelisik adakah kecurangan atau ketidakwajaran. Bak auditor profesional. Hingga sesi kelas ini berakhir, mereka baru bisa bernafas lega. Udara segar datang seketika.

 “Jadi, mana oleh-oleh dari Jogja?” Dewi menghampiri Rosa yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas.

“Oleh-oleh apa? Aku dua hari di Jogja bukan untuk jalan-jalan. Jadi, tidak sempat untuk belanja oleh-oleh.”

“Ah, kamu nih... kalau begitu, bagaimana dengan trainingnya? Seru, nggak? Hm, padahal aku pengen ikut tapi waktunya tidak tepat.”

“Seharusnya seru sih tapi menurutku biasa aja.”

“kok bisa?”

“hm, nggak tahu ya, mungkin karena dari awal aku memang tidak ada niat untuk berangkat, hanya setengah hati. Jadi, beginilah.... Hanya lelah yang didapat.”

Rosa berjalan meninggalkan ruangan praktikum. Dewi mengikutinya keluar, lalu berbelok menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Padahal banyak, lho, yang mau ikut training itu,” Dewi diam sejenak, “kalau kamu tidak ada niat untuk ikut, kenapa kamu mendaftarkan diri jadi peserta?”

“Terpaksa. Yah, kamu pasti tahulah, Dew.”

“Sayang, ya, seharusnya kamu bisa mendapatkan ilmu dari orang-orang keren. Hm, jadi teringat dengan nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hah, siapa itu? baru dengar sekarang. Eh, duduk di situ, yuk, ada kursi kosong.”
Mereka berdua pun berjalan menuju ke kursi-kursi yang kosong. Gedung B lantai dua memang terdapat spot-spot khusus yang biasa digunakan mahasiswa untuk sekedar berdiskusi atau hanya sekedar mengobrol ringan.

“Ibnu Hazm itu intelektual Andalusia yang sangat popular sekaligus seorang pemikir Islam. Seorang pecinta ilmu. Ia seorang pembelajar yang gigih, tangguh, dan tak kenal lelah.Layaknya ilmuwan islam lainnya di jaman itu. Beliau selalu berpesan, jika engkau menghadiri majelis ilmu maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala.

“Jadi, maksudmu, aku tidak seharusnya ikut training?”

“Bukan begitu, maksudku.... Ah, mengapa pikiranmu sesempit itu?”

“Lalu, bisakah kamu membuatnya lebih mudah untuk aku mengerti?”

“Oke. Jadi, begini,“Dewi mencoba menjelaskan,” ketika kamu mengikuti training, seminar, kajian, dan semacamnya, kamu harus meniatkan dirimu untuk memperoleh ilmu serta menghadirkan seluruh raga, hati, dan pikiranmu. Raganya hadir tapi hati dan pikirannya absen, ya, sama saja. Kamu tidak akan memperoleh apa-apa. Lalu, bagaimana jika kita merasa belum sepenuh hati untuk datang di acara tersebut serta belum ada kesungguhan niat untuk memperoleh ilmu? Apa iya, memutuskan untuk tidak hadir, begitu saja? Padahal akan ada banyak hal yang bisa diperoleh di acara tersebut, hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus memaksa diri kita untuk hadir, terlebih jika acara itu menyajikan kemanfaatan, salah satunya ilmu. ”

“Jadi, intinya meluruskan niat, begitu?”
“Ya, kembali lagi ke konsep yang tercantum dalam hadits Arba’in yang pertama.”
Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang diniatkan.
“Yap, betul sekali. Nasihat dari Ibnu Hazm memang menjurus ke situ. Jika kita hadir di majelis ilmu maka niatkanlah untuk memperoleh ilmu dan pahala. Ketika kita memang berniat untuk memperoleh ilmu maka insyaa Allah kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.”
“Oke, aku mengerti sekarang.” Rosa tampak manggut-manggut.
“Nah, selain itu, ada dua hal lagi yang perlu dihindari dalam mendatangi majelis ilmu. Pertama, bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu. Maksudnya, sebagai seorang pembelajar jangan pernah merasa, ‘ah aku sudah pernah mendengar mengenai hal ini’ karena hal ini akan mengurangi semangat dalam mempelajari ilmu. Ketika yang disampaikan telah kita dengar sebelumnya maka untuk kedua kalinya kita perlu belajar memahami hal tersebut. Selanjutnya, mengevalusi diri, apakah hal tersebut sudah kita terapkan di keseharian kita?” Dewi melanjutkan penjelasannya,” Kedua, jangan mencari-cari kesalahan dari guru untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, mereka tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya. Begitulah nasihat dari Ibnu Hazm.”
“Hm, super sekali! Aku harus banyak-banyak evaluasi diri, nih. Terkadang aku suka mencari  pembenaran-pembenaran untuk tidak hadir. Berdalih daripada niatnya nggak lurus mending nggak dateng.“
Referensi :
d1.islamhouse.com.2010. Hadist Arba’in Nawawiyah.Nawawi, Muhyidin Yahya.30 Januari 2014

Zaifori, Ahmad dan Sulthan Hadi. 2012.”Ibnu Hazm, Tegar Mendakwahkan syariat Ketika Banyak Ulama yang Diam”. Dalam Tarbawi, 14 Juni 2012

ETIKA BERILMU


Suasana di ruang kuliah, EB. 101 ini begitu pengap dan panas. Entah karena udara pagi ini yang menyengat ke dalam ruangan atau otak penghuni ruangannya yang memanas. Padahal ruangan ini difasilitasi 3 buah AC, masing-masing dipajang di muka dan dua sisi ruangan. Suhu 17ºC. Tetap tidak mempan. Mata kuliah praktikum auditing ini begitu menguras otak. Mata kuliah dua SKS pun serasa empat SKS. Mahasiswa harus berkutat menganalisis laporan keuangan, melakukan penelusuran ke jurnal-jurnal, menelisik adakah kecurangan atau ketidakwajaran. Bak auditor profesional. Hingga sesi kelas ini berakhir, mereka baru bisa bernafas lega. Udara segar datang seketika.

“Jadi, mana oleh-oleh dari Jogja?” Dewi menghampiri Rosa yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas.

“Oleh-oleh apa? Aku dua hari di Jogja bukan untuk jalan-jalan. Jadi, tidak sempat untuk belanja oleh-oleh.”

“Ah, kamu nih... kalau begitu, bagaimana dengan trainingnya? Seru, nggak? Hm, padahal aku pengen ikut tapi waktunya tidak tepat.”

“Seharusnya seru sih tapi menurutku biasa aja.”

“kok bisa?”

“hm, nggak tahu ya, mungkin karena dari awal aku memang tidak ada niat untuk berangkat, hanya setengah hati. Jadi, beginilah.... Hanya lelah yang didapat.”
Rosa berjalan meninggalkan ruangan praktikum. Dewi mengikutinya keluar, lalu berbelok menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Padahal banyak, lho, yang mau ikut training itu,” Dewi diam sejenak, “kalau kamu tidak ada niat untuk ikut, kenapa kamu mendaftarkan diri jadi peserta?”

“Terpaksa. Yah, kamu pasti tahulah, Dew.”

“Sayang, ya, seharusnya kamu bisa mendapatkan ilmu dari orang-orang keren. Hm, jadi teringat dengan nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hah, siapa itu? baru dengar sekarang. Eh, duduk di situ, yuk, ada kursi kosong.”

Mereka berdua pun berjalan menuju ke kursi-kursi yang kosong. Gedung B lantai dua memang terdapat spot-spot khusus yang biasa digunakan mahasiswa untuk sekedar berdiskusi atau hanya sekedar mengobrol ringan.

“Ibnu Hazm itu intelektual Andalusia yang sangat popular sekaligus seorang pemikir Islam. Seorang pecinta ilmu. Ia seorang pembelajar yang gigih, tangguh, dan tak kenal lelah.Layaknya ilmuwan islam lainnya di jaman itu. Beliau selalu berpesan, jika engkau menghadiri majelis ilmu maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala.

“Jadi, maksudmu, aku tidak seharusnya ikut training?”

“Bukan begitu, maksudku.... Ah, mengapa pikiranmu sesempit itu?”

“Lalu, bisakah kamu membuatnya lebih mudah untuk aku mengerti?”

“Oke. Jadi, begini,“Dewi mencoba menjelaskan,” ketika kamu mengikuti training, seminar, kajian, dan semacamnya, kamu harus meniatkan dirimu untuk memperoleh ilmu serta menghadirkan seluruh raga, hati, dan pikiranmu. Raganya hadir tapi hati dan pikirannya absen, ya, sama saja. Kamu tidak akan memperoleh apa-apa. Lalu, bagaimana jika kita merasa belum sepenuh hati untuk datang di acara tersebut serta belum ada kesungguhan niat untuk memperoleh ilmu? Apa iya, memutuskan untuk tidak hadir, begitu saja? Padahal akan ada banyak hal yang bisa diperoleh di acara tersebut, hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus memaksa diri kita untuk hadir, terlebih jika acara itu menyajikan kemanfaatan, salah satunya ilmu. ”

“Jadi, intinya meluruskan niat, begitu?”

“Ya, kembali lagi ke konsep yang tercantum dalam hadits Arba’in yang pertama.”

Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang diniatkan.

“Yap, betul sekali. Nasihat dari Ibnu Hazm memang menjurus ke situ. Jika kita hadir di majelis ilmu maka niatkanlah untuk memperoleh ilmu dan pahala. Ketika kita memang berniat untuk memperoleh ilmu maka insyaa Allah kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.”

“Oke, aku mengerti sekarang.” Rosa tampak manggut-manggut.

“Nah, selain itu, ada dua hal lagi yang perlu dihindari dalam mendatangi majelis ilmu. Pertama, bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu. Maksudnya, sebagai seorang pembelajar jangan pernah merasa, ‘ah aku sudah pernah mendengar mengenai hal ini’ karena hal ini akan mengurangi semangat dalam mempelajari ilmu. Ketika yang disampaikan telah kita dengar sebelumnya maka untuk kedua kalinya kita perlu belajar memahami hal tersebut. Selanjutnya, mengevalusi diri, apakah hal tersebut sudah kita terapkan di keseharian kita?” Dewi melanjutkan penjelasannya,” Kedua, jangan mencari-cari kesalahan dari guru untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, mereka tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya. Begitulah nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hm, super sekali! Aku harus banyak-banyak evaluasi diri, nih. Terkadang aku suka mencari  pembenaran-pembenaran untuk tidak hadir. Berdalih daripada niatnya nggak lurus mending nggak dateng.“


Referensi :

d1.islamhouse.com.2010. Hadist Arba’in Nawawiyah.Nawawi, Muhyidin Yahya.30 Januari 2014

Zaifori, Ahmad dan Sulthan Hadi. 2012.”Ibnu Hazm, Tegar Mendakwahkan syariat Ketika Banyak Ulama yang Diam”. Dalam Tarbawi, 14 Juni 2012

Pertaruhan


Sial! Entah sampai kapan aku harus berada di arena petarungan ini. Berawal dari pemukiman kumuh, aku tumbuh dan berkembang bersama mereka. Lebih tepatnya di bawah kungkungan mereka. Dandi dan genk-nya ibarat sekelompok raksasa kurawa yang haus akan kekuasaan. Berhasrat mencengkeramku dan mengusirku dari dunia ini. Tidakkah Dandi sadar bahwa aku dan dia masih ada ikatan darah? Bahwa aku seharusnya menjadi satu-satunya saudara yang harus dilindunginya. Oh, Tuhan....

Dua puluh tahun pun berlalu. Ketika aku mulai hengkang dan bernafas kembali, pergi mencari kehidupan baru, Dandi datang kepadaku. Tatapan matanya masih sama bahwa aku tak layak untuk mendapatkan apapun di dunia ini termasuk jabatan direktur perusahaan tekstil di Solo. Perusahaan yang kubangun dengan keringatku.

“Randi, lama sekali tidak bertemu denganmu. Lihatlah, betapa suksesnya dirimu sekarang,” Dandi tersenyum, menyeringai, “Aku punya penawaran untukmu, sebuah pertaruhan. Kuyakin kau pasti menyukainya....”


Pertaruhan! Kata ini selalu menyihirku menjadi sosok Yudhistira, gila pertaruhan. Sulit bagiku menolaknya. Harga diri! Itulah yang aku junjung tinggi. Namun, kali ini perusahaanku yang akan jadi taruhannya. Jika aku kalah maka aku seperti pandhawa yang terusir dari tanah Indraprastha lalu mengembara ke hutan, hidup dalam penyamaran. Aku tak mau seperti itu. Kan kumenangkan pertaruhan ini. Karena aku bukan sekedar Yudistira melainkan Pandawa.

Selasa, 07 Januari 2014

Bukan NONTON FILM Biasa

Siapa yang tidak suka nonton film? Ada, tapi tak banyak. Nyatanya, hampir tiap hari bioskop dipenuhi oleh muda-mudi. Nyatanya banyak sekali CD film bajakan yang dijual 5000 perak. Nyatanya masih tersebar toko yang melayani jasa penyewaan CD film. Bahkan nyatanya, kita pun bisa mengunduh secara gratis di website tertentu. Jadi, siapa yang tidak suka nonton film? Sedikit saja!

Nonton film itu tidak hanya sekedar menikmati kisahnya, menangisi tokoh cerita yang malang, teriak dan menutup mata dengan jari-jari terbuka ketika hantu yang menyeramkan muncul, ketawa saat melihat polah tokoh yang beradegan lucu. Tidak sekedar itu. Nonton film bisa menjadi salah satu sarana untuk mengetahui fenomena sosial yang ada dan belajar memahami karakter seseorang.

Film bercerita tentang fenomena sosial

Banyak sekali film-film yang berusaha mengungkap fenomena yang ada pada masyarakat. A Slumdog Millioner  misalnya yang menceritakan perjalanan seorang anak laki-laki keturunan muslim India. Film ini mengungkapkan fenomena pembantaian muslim India, perilaku sekelompok orang yang memanfaatkan anak kecil untuk menjadi pengemis, diperlihatkan tentang cara-cara untuk membutakan mereka dan sebagainya. Film ber-­genre sience fiction seakan bercerita bahwa dunia masa depan itu seperti ini, penuh dengan teknologi canggih. The Whistleblower  merupakan salah satu film yang mencoba mengangkat kisah nyata tentang human traficking yang justru dikelola oleh lembaga besar dunia.

Selain film tersebut juga banyak film yang berbau konspirasi misal Lemonty, Despiracable Me, The Simpson Movie dan masih banyak lagi. Kalau kita pandai mencermati, sebenarnya setiap film itu punya kesan yang mendalam, ini bukan tentang sekedar cerita cinta melankolis saja. Banyak genre film, semakin banyak genre yang ditonton maka kamu semakin kaya. (tentunya genre yang positif ya)

Too much expression

Tokoh-tokoh dalam film berbeda-beda sesuai dengan dunia nyata bahwa seseorang memiliki karakter yang berbeda. Bahkan kita bisa mempelajari psikologi seseorang dari tokoh film tersebut. Film korea merupakan film yang menyajikan too much expression. Artis-artis korea ini sangat pintar memainkan perannya. Lihat saja totalitas mereka dalam beradu akting. Selain itu, didukung oleh mata kamera yang mampu menangkap setiap ekspresi yang dipancarkan oleh wajah dan gerak tubuh. Melalui akting mereka inilah, kita bisa mendalami karakter seseorang dan mempelajari dampak psikologis atas kejadian yang dialami di masa lampau.

Jadi, masih terpikir untuk Nonton Film? Tentu, bukan ‘nonton film’ biasa. Menjadi penonton yang cerdas dengan memilah film yang mendidik. Cerdas dalam membaca cerita dan yang tersembunyi dibaliknya. Cerdas dalam memaknai karakter didalamnya.

Minggu, 05 Januari 2014

Bapak Vs Kelelawar

“Horee... Bapak pulang....” teriak Minah. Boneka yang sedari tadi dimainkannya langsung ia geletakkan begitu saja. Gadis kecil itu berlari riang memeluk bapaknya.

“Lihat, Bapak bawakan kesukaanmu..” sembari mengeluarkan buah jambu biji dari plastik kresek  yang ditentengnya.

“Tadi, sehabis mentas dari sawah, Bapak tengok dua pohon jambu dekat gubuk kita. Ternyata sudah berbuah banyak dan besar-besar. Bapak ingat kalo Minah suka sekali jambu. Jadi Bapak ambilkan beberapa untukmu. Lihat, besar-besar bukan?”

Minah langsung mengambil satu yang paling besar, “Wah pasti manis...” mulutnya siap untuk mencicipi buah Jambu yang terlihat lezat.

“E.. eh... dicuci dulu, Minah, baru dimakan,” Ibu meraih Jambu yang dipegang Minah lalu mencucinya dengan air bersih dan diberikan kembali kepada Minah. Secepat kilat, jambu itu mendapatkan gigitan pertama.

“Hm.. tidak semanis biasanya. Padahal jambunya besar, “ Kata Minah.

Ibu tersenyum, “Bapakmu ini memang tidak pintar dalam memilih buah, Nduk. Tidak bisa membedakan mana buah yang bagus mana yang tidak, bisanya cuma makan.“

“ Ya sudah, besok, Ibu sama Minah ikut Bapak ke sawah. Kita panen sama-sama buah jambunya. Bawa bakul besar untuk wadah. Nanti jambunya bisa dijual ke Pasar. Lumayan Bu, dapat uang 30-50 ribu. Bisa nambah persediaan beras kita.”

Ibu mengangguk setuju. Minah senang mendengarnya. Ia membayangkan tumpukan buah jambu yang besar-besar dan manis. Lezat...
***
Keesokan paginya, mereka sekeluarga pun berangkat ke sawah. Ibu memanggul sebuah bakul besar. Sedangkan Aminah membawa bakul kecil di pinggang. Sesampai di sawah, bakul itu pun diletakkan di gubuk.

Lhadalah, sepertinya kelelawar sudah mendahului kita, Bu!” Bapak menunjuk ke area rumput dekat pohon jambu tumbuh. Terlihat serpihan jambu berceceran. Tampak pula satu dua jambu tak utuh menggantung di ranting pohon. Terlihat daging buahnya yang merah bekas gigitan kelelawar.

“Padahal, kemarin sore buahnya masih bagus, Bu”

“Tidak apa, Pak, toh kelelawar itu mengambil beberapa saja. Masih tersisa banyak untuk kita.”

Minah tak mengacuhkan apa yang diperbincangkan oleh orang tuanya. Ia sedari tadi memandangi satu buah jambu besar yang menggantung diujung ranting, tak jauh dari tempat Ia berdiri. Tampak daging buahnya yang merah, barangkali bekas gigitan kelelawar semalam. Ia pun mencoba melompat meraih buah jambu itu.

“Hm enaaak, “ Minah menggigit sisi yang masih utuh.

“Minah, jangan dimakan ini bekas gigitan hewan, Nduk!“ Ibu membuang jambu yang dipegang Minah.

“Tapi, jambunya enak dan manis... Tidak seperti yang Bapak petik. Kelelawar itu pandai sekali memilih jambu yang lezat. Lebih pandai daripada Bapak,“ celetuk Minah polos.

Dan semuanya tertawa mendengar ucapan Minah
..................................................................................................................................................................
Seringkali kita menemui kejadian seperti ini, bukan? Manusia mengeluhkan tanamannya di rusak oleh hewan yang dianggap sebagai hama. Hewan memang memiliki cita rasa yang tinggi dalam memilih makanannya. Seperti yang diceritakan kisah di atas, kelelawar punya selera yang bagus dalam memilih buah mana yang sudah matang dan manis. Sedangkan ‘Bapak’ pemilik pohon tidak mampu memilih mana buah yang bagus sehingga salah petik.

Lalu apa yang sebenarnya dapat kita pelajari dari cerita di atas? Tentunya bukan tentang tips dalam memilih buah jambu karena perlu bertanya kepada “sang ahli buah” kelelawar (jadi inget iklan salam satu produk minuman rasa buah :p )

Coba cermati cerita berikut :

Kendy, ketua organisasi A, merasa kecewa karena Didin, salah seorang anggota organisasi A, mengundurkan diri dari organisasi. Kendy kecewa karena Didin memilih untuk bergabung dengan organisasi B yang notabene sering berlawanan tujuan dengan organisasi A.

Di sisi lain, Didin merasa bahwa organisasi A selama ini tidak bisa melihat potensi yang dimilikinya. Sementara organisasi B mampu memberikan sarana dalam mengembangkan potensinya sehingga Didin mampu menjadi orang yang ‘luar biasa’

Kasus seperti di atas juga sering terjadi dalam lembaga dakwah. Banyak kader yang lepas dan akhirnya berpindah pada gerakan lainnya bahkan menjadi orang ‘penting’ didalamnya. Atau ada pula yang keluar dan memilih untuk lebih fokus dalam kuliah. Sebuah lembaga dakwah, memang harus peka dalam membaca dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para kader. Harus mampu melihat mana kader yang bagus dan mana kader yang masih butuh bimbingan. Kader yang bagus pun harus tetap dijaga dengan baik jangan sampai seperti jambu yang dimakan oleh kelelawar tadi.


Siapa yang tidak merasa sedih melihat salah satu kader yang lepas akhirnya bergabung dengan lembaga lain, meraih kedudukan penting di lembaga itu, dan berbalik menyerang lembaga kita?

Sabtu, 04 Januari 2014

Manusia Samanea Saman*

Kata orang, ia begitu meneduhkan... ! sang Pelindung ! Manusia Samanea Saman

Kewelasasihannya  menjadi tempat bernaung bagi hati-hati yang gelisah. Manusia Samanea Saman

Tangguh..Kokoh..Tegar..(tampaknya).. Manusia Samanea Saman

itulah mengapa orang-orang sangat mempercayainya. Dari perkara remeh temeh hingga proyek-proyek besar. Manusia Samanea Saman

Tahukah? Bahkan ia mampu menstabilkan kondisi buruk di sekitarnya? Manusia Samanea Saman

Tapi oh...tetapi...

Manusia Samanea Saman kadang tak sadarkan diri
bukan melindungi tetapi ‘terlalu’ melindungi
yang akhirnya mematikan potensi

tapi oh.. tetapi

Manusia Samanea Saman begitu mudah dilanda gelisah
Mengokohkan tapi dirinya tak kokoh
Melindungi tapi tak bisa mempertahankan diri

Nyata-nyata
Terlalu lunak, Rapuh !



* Trembesi merupakan pohon peneduh yang rindang, daya serap CO2 tinggi, mampu menurunkan suhu lingkungan sekitar, dan tempat favorit bagi burung. Namun, batang Trembesi melunak di musim hujan hingga mudah patah serta tumbuhan sulit tumbuh dalam naungannya karena sedikitnya perolehan cahaya mentari.

Kamis, 26 Desember 2013

MENGGENANG (?)

“Pokoknya aku nggak mau ikut organisasi itu lagi! Capek hati!” Teriak Risa. Aku hanya bisa geleng-gelang kepala melihat Risa. Entah apa yang terjadi.

“Kamu kenapa?” Tanyaku.

“Aku sebel, Kak! Aku nggak mau ikut organisasi itu lagi. Capek! Cuma makan hati. Ini sudah sekian kalinya. Dan aku pikir ini cukup untuk membuatku berhenti.”

Kucoba menenangkannya. Risa pun mulai bercerita. Tak terasa air matanya pun mulai menetes. Ah, korban perasaan lagi, pikirku. Kutarik tangan Risa, kuajak ia keluar menyusuri jalanan yang masih basah  oleh guyuran hujan.

“Lihatlah air itu..” kutunjuk air yang menggenang, “air itu keruh dan akan tetap keruh di situ lalu berubah menjadi bau hingga panas matahari membuatnya menguap.”

“Coba bandingkan dengan air sungai itu, keruh. Tapi aliran derasnya akan membuat air  lama-lama menjadi jernih dan memberikan kemanfaatan untuk makhluk hidup sekitanya”

“jika kamu memilih berhenti, kamu seperti air yang menggenang. Tapi, menurutku Risa haruslah seperti air sungai itu yang terus mengalir.”

“Tapi, Kak. Aku lelah. Aku kecewa...”

“Jika kamu kecewa dengan sistem yang ada di dalamnya. Kamu harus tetap bertahan dan mengubah sistem itu menjadi lebih baik.”