Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2014

Bukan NONTON FILM Biasa

Siapa yang tidak suka nonton film? Ada, tapi tak banyak. Nyatanya, hampir tiap hari bioskop dipenuhi oleh muda-mudi. Nyatanya banyak sekali CD film bajakan yang dijual 5000 perak. Nyatanya masih tersebar toko yang melayani jasa penyewaan CD film. Bahkan nyatanya, kita pun bisa mengunduh secara gratis di website tertentu. Jadi, siapa yang tidak suka nonton film? Sedikit saja!

Nonton film itu tidak hanya sekedar menikmati kisahnya, menangisi tokoh cerita yang malang, teriak dan menutup mata dengan jari-jari terbuka ketika hantu yang menyeramkan muncul, ketawa saat melihat polah tokoh yang beradegan lucu. Tidak sekedar itu. Nonton film bisa menjadi salah satu sarana untuk mengetahui fenomena sosial yang ada dan belajar memahami karakter seseorang.

Film bercerita tentang fenomena sosial

Banyak sekali film-film yang berusaha mengungkap fenomena yang ada pada masyarakat. A Slumdog Millioner  misalnya yang menceritakan perjalanan seorang anak laki-laki keturunan muslim India. Film ini mengungkapkan fenomena pembantaian muslim India, perilaku sekelompok orang yang memanfaatkan anak kecil untuk menjadi pengemis, diperlihatkan tentang cara-cara untuk membutakan mereka dan sebagainya. Film ber-­genre sience fiction seakan bercerita bahwa dunia masa depan itu seperti ini, penuh dengan teknologi canggih. The Whistleblower  merupakan salah satu film yang mencoba mengangkat kisah nyata tentang human traficking yang justru dikelola oleh lembaga besar dunia.

Selain film tersebut juga banyak film yang berbau konspirasi misal Lemonty, Despiracable Me, The Simpson Movie dan masih banyak lagi. Kalau kita pandai mencermati, sebenarnya setiap film itu punya kesan yang mendalam, ini bukan tentang sekedar cerita cinta melankolis saja. Banyak genre film, semakin banyak genre yang ditonton maka kamu semakin kaya. (tentunya genre yang positif ya)

Too much expression

Tokoh-tokoh dalam film berbeda-beda sesuai dengan dunia nyata bahwa seseorang memiliki karakter yang berbeda. Bahkan kita bisa mempelajari psikologi seseorang dari tokoh film tersebut. Film korea merupakan film yang menyajikan too much expression. Artis-artis korea ini sangat pintar memainkan perannya. Lihat saja totalitas mereka dalam beradu akting. Selain itu, didukung oleh mata kamera yang mampu menangkap setiap ekspresi yang dipancarkan oleh wajah dan gerak tubuh. Melalui akting mereka inilah, kita bisa mendalami karakter seseorang dan mempelajari dampak psikologis atas kejadian yang dialami di masa lampau.

Jadi, masih terpikir untuk Nonton Film? Tentu, bukan ‘nonton film’ biasa. Menjadi penonton yang cerdas dengan memilah film yang mendidik. Cerdas dalam membaca cerita dan yang tersembunyi dibaliknya. Cerdas dalam memaknai karakter didalamnya.

Minggu, 05 Januari 2014

Bapak Vs Kelelawar

“Horee... Bapak pulang....” teriak Minah. Boneka yang sedari tadi dimainkannya langsung ia geletakkan begitu saja. Gadis kecil itu berlari riang memeluk bapaknya.

“Lihat, Bapak bawakan kesukaanmu..” sembari mengeluarkan buah jambu biji dari plastik kresek  yang ditentengnya.

“Tadi, sehabis mentas dari sawah, Bapak tengok dua pohon jambu dekat gubuk kita. Ternyata sudah berbuah banyak dan besar-besar. Bapak ingat kalo Minah suka sekali jambu. Jadi Bapak ambilkan beberapa untukmu. Lihat, besar-besar bukan?”

Minah langsung mengambil satu yang paling besar, “Wah pasti manis...” mulutnya siap untuk mencicipi buah Jambu yang terlihat lezat.

“E.. eh... dicuci dulu, Minah, baru dimakan,” Ibu meraih Jambu yang dipegang Minah lalu mencucinya dengan air bersih dan diberikan kembali kepada Minah. Secepat kilat, jambu itu mendapatkan gigitan pertama.

“Hm.. tidak semanis biasanya. Padahal jambunya besar, “ Kata Minah.

Ibu tersenyum, “Bapakmu ini memang tidak pintar dalam memilih buah, Nduk. Tidak bisa membedakan mana buah yang bagus mana yang tidak, bisanya cuma makan.“

“ Ya sudah, besok, Ibu sama Minah ikut Bapak ke sawah. Kita panen sama-sama buah jambunya. Bawa bakul besar untuk wadah. Nanti jambunya bisa dijual ke Pasar. Lumayan Bu, dapat uang 30-50 ribu. Bisa nambah persediaan beras kita.”

Ibu mengangguk setuju. Minah senang mendengarnya. Ia membayangkan tumpukan buah jambu yang besar-besar dan manis. Lezat...
***
Keesokan paginya, mereka sekeluarga pun berangkat ke sawah. Ibu memanggul sebuah bakul besar. Sedangkan Aminah membawa bakul kecil di pinggang. Sesampai di sawah, bakul itu pun diletakkan di gubuk.

Lhadalah, sepertinya kelelawar sudah mendahului kita, Bu!” Bapak menunjuk ke area rumput dekat pohon jambu tumbuh. Terlihat serpihan jambu berceceran. Tampak pula satu dua jambu tak utuh menggantung di ranting pohon. Terlihat daging buahnya yang merah bekas gigitan kelelawar.

“Padahal, kemarin sore buahnya masih bagus, Bu”

“Tidak apa, Pak, toh kelelawar itu mengambil beberapa saja. Masih tersisa banyak untuk kita.”

Minah tak mengacuhkan apa yang diperbincangkan oleh orang tuanya. Ia sedari tadi memandangi satu buah jambu besar yang menggantung diujung ranting, tak jauh dari tempat Ia berdiri. Tampak daging buahnya yang merah, barangkali bekas gigitan kelelawar semalam. Ia pun mencoba melompat meraih buah jambu itu.

“Hm enaaak, “ Minah menggigit sisi yang masih utuh.

“Minah, jangan dimakan ini bekas gigitan hewan, Nduk!“ Ibu membuang jambu yang dipegang Minah.

“Tapi, jambunya enak dan manis... Tidak seperti yang Bapak petik. Kelelawar itu pandai sekali memilih jambu yang lezat. Lebih pandai daripada Bapak,“ celetuk Minah polos.

Dan semuanya tertawa mendengar ucapan Minah
..................................................................................................................................................................
Seringkali kita menemui kejadian seperti ini, bukan? Manusia mengeluhkan tanamannya di rusak oleh hewan yang dianggap sebagai hama. Hewan memang memiliki cita rasa yang tinggi dalam memilih makanannya. Seperti yang diceritakan kisah di atas, kelelawar punya selera yang bagus dalam memilih buah mana yang sudah matang dan manis. Sedangkan ‘Bapak’ pemilik pohon tidak mampu memilih mana buah yang bagus sehingga salah petik.

Lalu apa yang sebenarnya dapat kita pelajari dari cerita di atas? Tentunya bukan tentang tips dalam memilih buah jambu karena perlu bertanya kepada “sang ahli buah” kelelawar (jadi inget iklan salam satu produk minuman rasa buah :p )

Coba cermati cerita berikut :

Kendy, ketua organisasi A, merasa kecewa karena Didin, salah seorang anggota organisasi A, mengundurkan diri dari organisasi. Kendy kecewa karena Didin memilih untuk bergabung dengan organisasi B yang notabene sering berlawanan tujuan dengan organisasi A.

Di sisi lain, Didin merasa bahwa organisasi A selama ini tidak bisa melihat potensi yang dimilikinya. Sementara organisasi B mampu memberikan sarana dalam mengembangkan potensinya sehingga Didin mampu menjadi orang yang ‘luar biasa’

Kasus seperti di atas juga sering terjadi dalam lembaga dakwah. Banyak kader yang lepas dan akhirnya berpindah pada gerakan lainnya bahkan menjadi orang ‘penting’ didalamnya. Atau ada pula yang keluar dan memilih untuk lebih fokus dalam kuliah. Sebuah lembaga dakwah, memang harus peka dalam membaca dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para kader. Harus mampu melihat mana kader yang bagus dan mana kader yang masih butuh bimbingan. Kader yang bagus pun harus tetap dijaga dengan baik jangan sampai seperti jambu yang dimakan oleh kelelawar tadi.


Siapa yang tidak merasa sedih melihat salah satu kader yang lepas akhirnya bergabung dengan lembaga lain, meraih kedudukan penting di lembaga itu, dan berbalik menyerang lembaga kita?

Jumat, 13 Desember 2013

Tentang Luka

“hati tidak dapat patah. Taraf paling rendah yang diderita penyakit hati adalah luka parah atau kelemahan oleh kelelahan menderita. keduanya dapat sembuh. karena luka selalu ditutup kembali oleh kulit yang baru dan sehat.” (keberangkatan)
                Luka, siapa yang tidak pernah merasa terluka? Ah tentunya semua orang pernah merasakannya. Luka fisik maupun hati. Lalu kenapa bisa luka? Banyak faktor!  Tapi bisakah disembuhkan?  Lamanya tergantung si empunya.
Luka Hati, apa sebabnya?
Aiih berbicara luka hati, hm penyebabnya bisa hal-hal  yang sederhana bahkan sampai yang kompleks. Luka itu muncul tidak hanya karena faktor eksternal tapi juga internal, dari dalam diri sendiri.  Luka yang disebabkan lingkungan eksternal, misalnya perlakuan kasar orang lain terhadap diri kita.  Yang akhirnya membuat diri kita menderita. Tapi guys, jika ini yang kamu alami, merasa lingkungan sekitarmu bersikap terlalu kejam, ingatlah Allah senantiasa membersamai kita.
Faktor penyebab luka yang lainnya, muncul dari dalam diri sendiri. Hal ini mampu menimbulkan luka hati yang bersifat akut bahkan kronis. Kok bisa? Yupz... luka ini biasanya timbul karena kemarahan kita pada seseorang yang bisa berakibat benci, iri, dengki, dan ‘temen2 gengmya’. Nah ini lebih susah untuk disembuhkan. Kalo faktor eksternal, selama kita tidak lagi bersinggungan dengan lingkungan yang membuat kita terluka, tentunya  luka itu akan segera sembuh. Tapi, faktor internal itu ada di dalam diri kita dan mengikuti kemana pun langkah kaki kita.
Luka, bagaimana menyembuhkannya?
Luka selalu ditutup kembali dengan kulit yang baru dan sehat. Inilah kalimat yang diucapkan Lansih dalam novel Keberangkatan karya NH. Dini. Jika dianalogikan, memang luka fisik itu jika dirawat dan diobati dengan tepat bisa sembuh, Bagian yang terluka lama-lama akan terkelupas dan kemudian diganti dengan kulit baru yang sehat. Namun, luka yang tidak dirawat dengan baik tentu akan menimbulkan bekas yang tidak bisa dihilangkan bahkan bisa menyebabkan infeksi yang akan menggerogoti organ tubuh disekitarnya.
Begitu pula dengan luka hati. Jika kita bisa merawat dan mengobati dengan cara yang tepat. Tentu, luka itu akan hilang tidak menimbulkan bekas. Sangat berbahaya jika luka itu dibiarkan yang akan menginfeksi seluruh hati kita. Hingga hati itu menjadi mati dan keras. Padahal dijelaskan dalam hadist Ar’bain ke – 6,
       Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra, dia berkata, “ saya mendengar rasulullah saw, bersabda, “..... Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bisa dibayangkan ketika hati sudah mati, maka buruklah seluruh tubuh kita, buruklah perbuatan kita. Lalu bagaimana cara menyembuhkannya? Kuncinya ada pada taraf keimanan kita. Yupz.. jika iman kita kuat tentu hati akan lebih mudah terjaga. Berikan asupan yang bergizi dengan memperbanyak ibadah harian semisal tilawah dan berdzikir. Karena dengan menyebut nama Allah hati akan menjadi tenang, iya kan? Selanjutnya belajar ikhlas dan memaafkan. Memang berat untuk melakukannya. Sebagaimana orang yang menderita penyakit kanker, maka harus rajin kemoterapi. Begitu juga dengan luka hati harus diterapi dengan sikap ikhlas dan memaafkan. Keduanya akan melembutkan hati yang keras.
Luka hanya bisa disembuhkan oleh  si pembuat luka
Begitu kata seorang penyair terkenal, Kahlil Gibran. Ada benarnya juga memang. Ketika kita disakiti oleh orang lain maka permintaan maafnya lah yang mampu menyembuhkan rasa sakit hati kita. Tapi terkadang kita terlalu angkuh untuk memaafkan orang lain. Hingga membuat luka itu semakin sakit dan sakit. Jika begini ceritanya, ya semuanya tergantung dari dirimu sendiri. Hanya kamulah penawar luka atas luka hatimu sendiri.
Ya Allah, jika aku melukai hati hamba-Mu maka berikanlah aku kekuatan untuk meminta maaf kepadanya.
Ya Allah, jika hatiku terluka akibat perangai hamba-Mu maka berikanlah aku kekuatan untuk memaafkan dirinya....

aamiin