Tampilkan postingan dengan label makna kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Manusia Samanea Saman*

Kata orang, ia begitu meneduhkan... ! sang Pelindung ! Manusia Samanea Saman

Kewelasasihannya  menjadi tempat bernaung bagi hati-hati yang gelisah. Manusia Samanea Saman

Tangguh..Kokoh..Tegar..(tampaknya).. Manusia Samanea Saman

itulah mengapa orang-orang sangat mempercayainya. Dari perkara remeh temeh hingga proyek-proyek besar. Manusia Samanea Saman

Tahukah? Bahkan ia mampu menstabilkan kondisi buruk di sekitarnya? Manusia Samanea Saman

Tapi oh...tetapi...

Manusia Samanea Saman kadang tak sadarkan diri
bukan melindungi tetapi ‘terlalu’ melindungi
yang akhirnya mematikan potensi

tapi oh.. tetapi

Manusia Samanea Saman begitu mudah dilanda gelisah
Mengokohkan tapi dirinya tak kokoh
Melindungi tapi tak bisa mempertahankan diri

Nyata-nyata
Terlalu lunak, Rapuh !



* Trembesi merupakan pohon peneduh yang rindang, daya serap CO2 tinggi, mampu menurunkan suhu lingkungan sekitar, dan tempat favorit bagi burung. Namun, batang Trembesi melunak di musim hujan hingga mudah patah serta tumbuhan sulit tumbuh dalam naungannya karena sedikitnya perolehan cahaya mentari.

Kamis, 26 Desember 2013

MENGGENANG (?)

“Pokoknya aku nggak mau ikut organisasi itu lagi! Capek hati!” Teriak Risa. Aku hanya bisa geleng-gelang kepala melihat Risa. Entah apa yang terjadi.

“Kamu kenapa?” Tanyaku.

“Aku sebel, Kak! Aku nggak mau ikut organisasi itu lagi. Capek! Cuma makan hati. Ini sudah sekian kalinya. Dan aku pikir ini cukup untuk membuatku berhenti.”

Kucoba menenangkannya. Risa pun mulai bercerita. Tak terasa air matanya pun mulai menetes. Ah, korban perasaan lagi, pikirku. Kutarik tangan Risa, kuajak ia keluar menyusuri jalanan yang masih basah  oleh guyuran hujan.

“Lihatlah air itu..” kutunjuk air yang menggenang, “air itu keruh dan akan tetap keruh di situ lalu berubah menjadi bau hingga panas matahari membuatnya menguap.”

“Coba bandingkan dengan air sungai itu, keruh. Tapi aliran derasnya akan membuat air  lama-lama menjadi jernih dan memberikan kemanfaatan untuk makhluk hidup sekitanya”

“jika kamu memilih berhenti, kamu seperti air yang menggenang. Tapi, menurutku Risa haruslah seperti air sungai itu yang terus mengalir.”

“Tapi, Kak. Aku lelah. Aku kecewa...”

“Jika kamu kecewa dengan sistem yang ada di dalamnya. Kamu harus tetap bertahan dan mengubah sistem itu menjadi lebih baik.”

Jumat, 13 Desember 2013

Tentang Luka

“hati tidak dapat patah. Taraf paling rendah yang diderita penyakit hati adalah luka parah atau kelemahan oleh kelelahan menderita. keduanya dapat sembuh. karena luka selalu ditutup kembali oleh kulit yang baru dan sehat.” (keberangkatan)
                Luka, siapa yang tidak pernah merasa terluka? Ah tentunya semua orang pernah merasakannya. Luka fisik maupun hati. Lalu kenapa bisa luka? Banyak faktor!  Tapi bisakah disembuhkan?  Lamanya tergantung si empunya.
Luka Hati, apa sebabnya?
Aiih berbicara luka hati, hm penyebabnya bisa hal-hal  yang sederhana bahkan sampai yang kompleks. Luka itu muncul tidak hanya karena faktor eksternal tapi juga internal, dari dalam diri sendiri.  Luka yang disebabkan lingkungan eksternal, misalnya perlakuan kasar orang lain terhadap diri kita.  Yang akhirnya membuat diri kita menderita. Tapi guys, jika ini yang kamu alami, merasa lingkungan sekitarmu bersikap terlalu kejam, ingatlah Allah senantiasa membersamai kita.
Faktor penyebab luka yang lainnya, muncul dari dalam diri sendiri. Hal ini mampu menimbulkan luka hati yang bersifat akut bahkan kronis. Kok bisa? Yupz... luka ini biasanya timbul karena kemarahan kita pada seseorang yang bisa berakibat benci, iri, dengki, dan ‘temen2 gengmya’. Nah ini lebih susah untuk disembuhkan. Kalo faktor eksternal, selama kita tidak lagi bersinggungan dengan lingkungan yang membuat kita terluka, tentunya  luka itu akan segera sembuh. Tapi, faktor internal itu ada di dalam diri kita dan mengikuti kemana pun langkah kaki kita.
Luka, bagaimana menyembuhkannya?
Luka selalu ditutup kembali dengan kulit yang baru dan sehat. Inilah kalimat yang diucapkan Lansih dalam novel Keberangkatan karya NH. Dini. Jika dianalogikan, memang luka fisik itu jika dirawat dan diobati dengan tepat bisa sembuh, Bagian yang terluka lama-lama akan terkelupas dan kemudian diganti dengan kulit baru yang sehat. Namun, luka yang tidak dirawat dengan baik tentu akan menimbulkan bekas yang tidak bisa dihilangkan bahkan bisa menyebabkan infeksi yang akan menggerogoti organ tubuh disekitarnya.
Begitu pula dengan luka hati. Jika kita bisa merawat dan mengobati dengan cara yang tepat. Tentu, luka itu akan hilang tidak menimbulkan bekas. Sangat berbahaya jika luka itu dibiarkan yang akan menginfeksi seluruh hati kita. Hingga hati itu menjadi mati dan keras. Padahal dijelaskan dalam hadist Ar’bain ke – 6,
       Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra, dia berkata, “ saya mendengar rasulullah saw, bersabda, “..... Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bisa dibayangkan ketika hati sudah mati, maka buruklah seluruh tubuh kita, buruklah perbuatan kita. Lalu bagaimana cara menyembuhkannya? Kuncinya ada pada taraf keimanan kita. Yupz.. jika iman kita kuat tentu hati akan lebih mudah terjaga. Berikan asupan yang bergizi dengan memperbanyak ibadah harian semisal tilawah dan berdzikir. Karena dengan menyebut nama Allah hati akan menjadi tenang, iya kan? Selanjutnya belajar ikhlas dan memaafkan. Memang berat untuk melakukannya. Sebagaimana orang yang menderita penyakit kanker, maka harus rajin kemoterapi. Begitu juga dengan luka hati harus diterapi dengan sikap ikhlas dan memaafkan. Keduanya akan melembutkan hati yang keras.
Luka hanya bisa disembuhkan oleh  si pembuat luka
Begitu kata seorang penyair terkenal, Kahlil Gibran. Ada benarnya juga memang. Ketika kita disakiti oleh orang lain maka permintaan maafnya lah yang mampu menyembuhkan rasa sakit hati kita. Tapi terkadang kita terlalu angkuh untuk memaafkan orang lain. Hingga membuat luka itu semakin sakit dan sakit. Jika begini ceritanya, ya semuanya tergantung dari dirimu sendiri. Hanya kamulah penawar luka atas luka hatimu sendiri.
Ya Allah, jika aku melukai hati hamba-Mu maka berikanlah aku kekuatan untuk meminta maaf kepadanya.
Ya Allah, jika hatiku terluka akibat perangai hamba-Mu maka berikanlah aku kekuatan untuk memaafkan dirinya....

aamiin

Senin, 11 November 2013

BUS DAN PILIHAN HIDUP (1)



Siang ini saya baru saja mengurus penelitian di Unes, salah satu perguruan tinggi di Semarang. Setelah urusan selesai, saya pun memutuskan langsung pulang dengan naik angkutan menuju daerah Jatingaleh. Dari sinilah saya akan memulai cerita.
               Turun di Jatingaleh saya pun memutuskan untuk menuju salah satu halte terdekat. Yap, ada dua jenis halte berjajar, 1 halte khusus BRT dan 1 halte untuk kendaraan umum lainnya. Sebenarnya banyak alternatif kendaraan yang bisa saya pilih untuk pulang ke tembalang. Mau memilih 2x transit atau langsung 1x transit. Untuk pilihan pertama dengan menggunakan 2x transit, pertama bisa naik kendaraan arah banyumanik (banyak sekali pilihannya, bisa naik bus banyumanik, bus damri, bus pudak payung, brt, ataupun angkutan arah banyumanik) turun di patung kuda kemudian naik lagi angkot menuju tembalang. Harga yang harus dibayar untuk sekali naik sekitar Rp 2500,-. Jadi total yang harus dikeluarkan untuk sampai tembalang sekitar 2xRp 2500,- = Rp 5000,-
                Nah untuk alternatif kedua, naik bus jurusan Bukit kencana-mangkang, cukup satu kali naik saja dan hanya merogoh Rp 3000,-. Lebih murah memng. Tapi sayang, bus yang beroperasi sangat sedikit sehingga kita harus menunggu lama bisa 30 menit atau bahkan 1 jam.
                Lalu mana yang saya pilih kemudian? Karena saya harus berhemat maka saya memutuskan untuk naik Bus jurusan Bukit Kencana-mangkang. Konsekuensinya saya harus bersabar menunggu bus ini walaupun banyak sekali bus-bus lain yang lewat di depan saya. Apakah saya menyesal telah menunggu lama? Tentu saja tidak, karena tujuan akhir yang ingin saya capai adalah HEMAT ONGKOS bukan Hemat Waktu.
                Tentu dalam hidup kita akan dihadapkan pada banyak pilihan, bukan? Dan peluangny sangat kecil untuk bisa meraih semuanya. Maka tentukan tujuan akhir apa yang ingin kamu dapatkan, lalu pilihan apa yang bisa kamu lakukan. That’s right!

Selasa, 12 Februari 2013

MENILIK SISI LAIN DARI MUSEUM FATAHILLAH , SAKSI BISU TENTANG PERKEMBANGAN KOTA TUA DAN MASYARAKAT INDONESIA (Bag. 1)


Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya menginjakkan kaki juga di Kota Tua Jakarta. Hm gini tho  ternyata... sama seperti kota-kota tua lainnya, kondisinya kurang begitu terawat. Padahal tempat ini bisa menjadi tempat yang asyik untuk jalan-jalan menikmati suasana Indonesia tempo dulu saat Belanda masih singgah di sini,
                Salah satu magnet di Kota Lama ini adalah Museum Fatahillah yang telah menjadi bukti keberhasilan anak bangsa merebut Batavia dari tangan Belanda. Menurut sumber www.museumsejarahjakarta.com, Museum Fatahillah dulunya disebut Staadhuis. Gedung Staadhuis tidak hanya berfungsi sebagai kantor Balai Kota saja, akan tetapi juga sebagai kantor Dewan Urusan Perkawinan, Kantor Balai Harta (Jawatan Pegadaian) dan kantor Pengadilan (Raad Van Justitie). Oleh karena itu gedung Staadhuis tersebut oleh masyarakat dikenal juga sebagai Gedung Bicara. Gedung ini juga berfungsi sebagai kantor pengadilan sehingga dilengkapi sel penjara di lantai dasar.
                Setelah perang kemerdekaan, Staadhuis berubah  menjadi Balai kota Propinsi Jawa Barat sampai dengan bulan desember 1945 dan selanjutnya dijadikan Kantor Kodim 0503 Jakarta Barat, sedangkan dibagian belakang untuk tempat tinggal keluarga. Ketika dijadikan kantor KODIM 0503, Taman Fatahillah didepannya yang luas itu pernah berfungsi sebagai terminal bis kota. Hingga akhirnya pada tanggal 30 Maret 1974, Pemerintah DKI Jakarta memugar gedung tersebut dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta.
Museum Fatahillah Terkini
                Selayaknya sebuah museum pada umumnya, Museum Fatahillah menyimpan berbagai macam benda dari zaman prasejarah maupun benda sejarah, selain itu juga terdapat berbagai etnografi di dalamnya. Halamannya dihiasi dengan beberapa meriam. Jika Anda masuk ke dalam menuju halaman belakang, ada sebuah patung Hermes yang berdiri tegak.
                Berkunjung di Museum Fatahillah, kita akan merasakan secara jelas atmosfer Indonesia di zaman Belanda, karena dikelilingi oleh bangunan tua lainnya. Tempat yang bagus untuk menciptakan moment dalam sebuah jepretan kamera. Selain itu juga, terdapat persewaan sepeda ontel yang akan membawa kita untuk berkeliling menikmati Kota Tua atau hanya sekedar berfoto ria ala Tuan dan Nona Belanda. Lihatlah bagaimana serunya teman-teman saya melakukan balap sepeda ontel... Sungguh menyenangkan meskipun matahari Jakarta begitu menyengat.

Rabu, 02 Januari 2013

DUA MENIT PESAN YANG SYARAT MAKNA : SEBUAH PERWAJAHAN MASYARAKAT INDONESIA



Iklan merupakan sarana untuk mempromosikan suatu produk. Perusahaan pun saling berlomba untuk merebut perhatian konsumen dengan sajian iklan yang unik dan menarik. Ide-ide kreatif pun diburu. Dari yang paling nggak jelas, nggak nyambung dengan produknya (setelah lihat langsung bengong, maksudnya iklan ini apa?), memasukkan simbol-simbol terselubung, sampai ada yang menyajikan sebuah cerita penuh makna. Sayangnya, untuk jenis iklan terakkhir ini jarang ditemui. Hanya perusahaan berskala besar yang bisa membuatnya karena biaya yang disediakan pun juga banyak. Agak miris juga terkadang melihat iklan yang ada di Indonesia. Iklan bagus biasanya  malah dikeluarkan oleh perusahaan rokok.
                Sempet tertegun dengan sebuah iklan yang dibuat khusus oleh stasiun Televisi swasta terkemuka di Indonesia. Okey sebut saja Trans Corp. Saat melihat iklan ini keren banget, syarat makna. Buat pengingat nih, aku ceritakan sekilas tentang iklannya ya bagian intinya...
                Iklan ini bercerita tentang terjadinya kemacetan di jalan akibat tumbangnya sebuah pohon besar sehingga menghambat lajunya kendaraan. Anehnya para pengendara justru sibuk membunyikan klakson dan saling mencaci. Kondisi pun kian memanas, hingga tergeraklah seorang anak kecil (dikisahkan pengamen jalanan) untuk memindahkan sebuah pohon besar tersebut. Lalu datang anak kecil lainnya untuk membantu. Melihat semangat anak-anak tersebut, para pengendara pun turun ikut serta membantu memindahkan pohon tersebut ke tepi jalan.
                Mari kita mencoba menguraikan iklan ini satu persatu. Kondisi kemacetan yang digambarkan iklan tersebut menyiratkan perwajahan masyarakat Indonesia sekarang. Terkadang kita terlalu sibuk untuk mengkritisi permasalahan yang ada, mencaci, menyudutkan, dan sibuk mencari siapa yang patut dipersalahkan. Sehingga akhirnya kita tak sadar bahwa permasalahan ini semakin memburuk karena tidak segera teratasi.
                Lalu muncullah sebuah sosok problem solver. Nah sosok inilah yang berusaha untuk action mengatasi masalah tanpa harus terlalu banyak mencaci keadaan. Melihat lebih mendalam lagi, si problem solver di sini justru anak kecil. Hal ini menyiratkan bahwa kita sebagai generasi muda hendaklah melakukan sebuah perubahan, lebih banyak action, mengatasi permasalah dengan kepala dingin. Tidak mudah terbawa emosi yang ada. Talk less do more cocok banget untuk mengungkapkan makna iklan ini. So, bagi kamu para generasi muda, mari kita ubah budaya menyalahkan dengan budaya problem solver!