Kamis, 10 Juli 2014

SKENARIO

DAFTAR PENERIMA DANA PENDIDIKAN 2014
............
04. RATRI PRAMESWARI                 HUKUM/2012
............

“Den, benar katamu, aku lolos! Akhirnya....”

Ratri berbicara lewat handphone jadul yang kini tertempel di telinga kirinya. Semburat kebahagiaan memancar dari wajah gadis itu.

***

Delapan jam yang lalu.

Detakan jarum jam tak mampu berpacu dalam irama ketukan tuts keyboard. Sudah sepuluh menit berlalu. Tak banyak waktu yang tersisa. Denra harus bergerak cepat. Ia harus segera memperbaiki kembali data-data yang tersimpan dalam file berkapasitas 78,54 kb. Ya, memperbaiki, agaknya lebih pantas digunakan dalam aktivitas meretas.

ENTER!

Proses loading agak melambat. Tak ada waktu lagi. Denra mulai menggigit ujung kukunya. Beberapa detik kemudian, layar laptop menyampaikan pesan.

“ ANDA BERHASIL!”

***

Terdengar suara Ratri dari headset yang terhubung handphone dan kini tertancap nyaman di kedua telinga Denra. Suaranya menandakan kebahagiaan.

“Syukurlah....” Denra hanya menjawab singkat.

“Terima kasih kamu telah melakukannya untukku...”

“Maksudmu?” Denra mengernyitkan dahi.

“Aku tahu, kamu telah berusaha keras semalam. Menyisipkan namaku di daftar itu.”

“Ba...gai...mana k...ka...kau tahu?” Denra tergagap. Inilah kelemahannya. Ia sulit menyembunyikan rasa gugup.

“Tentu, karena aku telah merancang semuanya dari awal. Kamu telah terperangkap masuk dalam arena permainanku.”

Denra berpikir keras. Ia mencoba memasang kepingan puzzle yang kini berserakan di memori otaknya.

“SIALL!!!!!”[]




Bagaimana Jika Hati?

Menjelang ujian skripsi, aku pun mendadak sakit. Sepertinya inilah puncak kelelahanku. Selama sebulan ini aku memang merasa tak enak badan. Aku sering merasa sakit kepala, kadang mual, kadang merasa lemas. Namun, kondisi ini belum mampu mematahkanku untuk beraktivitas normal. Terlebih aku harus bolak-balik ke Solo dan Pati dua minggu sekali.

Kelelahan itu seakan menumpuk hingga dua hari sebelum ujian skripsi. Aku mengalami sakit kepala yang hebat. Aku demam. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sembari berharap sakit kepalaku itu menghilang. Namun, apalah daya, sakit itu pun semakin menjadi. Tapi aku tetap bersyukur karena Allah masih memberikanku kesembuhan selama proses ujian skripsi.

Seusai ujian, sakit kepalaku kambuh lagi. Meskipun tak sesakit sebelumnya, demamku justru semakin meninggi. Lidah pun hambar, hanya beberapa suap yangberhasil  kumakan. Sulit bagiku membedakan rasa. Semua makanan yang masuk ke  mulut terasa tak enak.

Kala badan sakit dan lidah ikut terganggu, inilah akibatnya, susah untuk membedakan rasa. Aku pun mulai berfikir. Ah, ini baru lidah saja yang sakit.  Bagaimana kalau hati yang sakit? Dalam sebuah hadis sudah jelas disebutkan bahwa hati itu adalah raja, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia sakit, rusaklah seluruh tubuh.

Maka coba bayangkan... ketika indera pengecap kita sakit, akhirnya kita susah untuk membedakan rasa asin, manis, asam, dan pahit. Nah, bagaimana jika hati? Hati nurani merupakan pusat fatwa, yang akan memberikan petunjuk perihal baik dan buruk. Hati yang sakit tentu tak akan mampu melakukan filter ini. Kita tak mampu membedakan hal yang baik dan yang buruk. Posisi inilah yang akan membawa kita pada kondisi semakin futur dan dekat dengan hal-hal buruk.

Saat lidah yang sakit, kita tak akan nafsu makan. Kita justru malas memakan makanan yang seharusnya baik bagi tubuh kita. Sama halnya dengan hati yang sakit. Kita pasti malas untuk melakukan ibadah yang seharusnya bisa menjadi obat kita.

Semarang, 24 April 2014

*catatan ini ditulis dalam penantian menuju hari wisuda

CANGKIR 12 : DONASI UNTUK ISRAEL?

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Qs. Al Mumtahanah : 9)

Beberapa hari ini, nurani kita mulai diketuk kembali dengan berita penyerangan Israel terhadap Palestina. Ya, bumi Palestina berguncang kembali. Media yang semula disibukkan dengan euforia piala dunia dan pemilu Indonesia, mau tak mau harus memberikan sedikit celah untuk menyiarkan tindakan kedzaliman ini.
Memang, selama beberapa bulan terakhir, media kita tampak lengang dari berita kemanusiaan yang terjadi di palestina. Padahal, perjuangan mereka untuk mempertahankan tanah suci seluruh umat Islam ini sungguh tak pernah berjeda. Barangkali, inilah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa seharusnya tidak lengah dan berdiam diri selama ini.

Maka, dalam semangat membela saudara seiman kita, beberapa lembaga kemanusiaan pun mengajak kita untuk memberikan bantuan berupa doa maupun harta. Sebagaimana yang telah dipesankan oleh Rasulullah terhadap kita, perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisan kalian. Namun, ada pertanyaan yang mulai mengusik hati saya, berapa banyak yang telah saya donasikan untuk Palestina dan muslim lainnya selama ini? Jangan-jangan, saya hanya teringat untuk memberikan donasi di saat seperti ini saja. Kala berita tentang penindasan kaum muslim memenuhi kolom-kolom media.

Saya pun teringat tentang beberapa file yang terserak dalam salah satu folder. File ini berisi tentang data-data produk yang diboikot oleh ulama. Ya, beberapa ulama dan tokoh Islam kenamaan seperti Dr. Yusuf Qardhawi, Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Dosen Syariah Universitas Al Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam) telah menyatakan pemboikotannya terhadap produk perusahaan yang diindikasikan menjadi penyumbang dana untuk Israel. Yang mengejutkan adalah beberapa perusahaan ini telah menguasai pasar kita, menjadi leader. Produk-produknya pun lekat pada diri kita, mulai dari kosmetik, makanan hingga barang elektronik. Bahkan tak jarang dari kita yang dengan bangga mengkonsumsinya. Astaghfirullah.

Sungguh, saya bahkan Anda semua, umat muslim, telah terlena. Kita semua tanpa sadar telah menjadi donatur untuk Israel melalui produk-produk yang telah kita beli. Kita merasa lebih keren jika nongkrong di restoran junk food—penyaji hamburger, pizza, dan fried chicken kenamaan—dibanding menikmati makanan di warung makan penyaji masakan Indonesia. Sungguh, kita lebih suka mengenakan brand internasional dibanding buatan asli Indonesia. Sungguh, kita lebih suka minum minuman bersoda dibandingkan air putih yang lebih menyehatkan. Ah, tapi air putih pun tak semuanya produksi Indonesia.

Sekarang, sangat penting bagi kita semua untuk memilah kembali, produk-produk apa saja yang semestinya kita beli. Mari, kita segera move on produk-produk yang lebih save. Jangan sampai, lembaran rupiah yang kita gunakan untuk memberi donasi pada Israel lebih besar dibandingkan yang telah kita berikan untuk Palestina.


CANGKIR 11 : MENJAGA KEISTIQOMAHAN

Sebelas hari yang lalu, kita telah merancang betul-betul, ibadah-ibadah apa yang harus kita capai selama bulan ramadan. Kita telah merancang dengan sempurna, ingin menjadi seperti apa diri kita saat ramadan berakhir nanti. Lalu, memasuki sepuluh hari kedua bulan ramadan ini, apa kabar dengan rancangan ibadah yang telah kita susun? Apakah kita sudah menjalaninya dengan baik ataukah hanya menjadi sebuah catatan penghias dinding kita? Pertanyaan ini sungguh menjadi alarm besar bagi saya.

Memasuki sepuluh hari kedua ini, sungguh, kita perlu evaluasi secara besar-besaran amalan-amalan yang telah kita jalani. Apakah selama sepuluh hari pertama kita telah menjaga keistiqomahan dalam beribadah? Apakah ada ibadah yang terlewatkan atau belum terlaksana hingga hari ini? Padahal, awal ramadan seharusnya menjadi masa menggebunya sebuah semangat. Jika di sepuluh hari pertama saja kita sudah terseok-seok untuk menjaga sebuah keistiqomahan, maka bagaimana kita bisa bertahan sampai akhir nanti?


Entah seperti apa kadar keistiqomahan kita yang tlah lalu, di titik awal pintu gerbang kedua ini, hendaknya kita perlu kembali mematut diri. Merapikan iman yang sempat terserak. Mengisi penuh tangki-tangki semangat kita. Sungguh, menjaga sebuah keistiqomahan itu mahal harganya. Dan tak ada salahnya, untuk selalu menyematkan doa, agar Allah senantiasa menjaga kita dalam keistiqomahan iman Islam.

CANGKIR 10 : MELARUTKAN PRASANGKA

Konon jalinan persahabatan itu laksana rangkaian kata, kadang ia pun butuh jeda lalu terangkaikan dengan kata-kata lainnya.

Jeda, kadang sulit kupahami keterjedaan di antara kita. Kala jeda menyematkan ketersesakan rindu ingin bertemu, aku justru memahami sebaliknya. Jeda yang terlampau lama di antara kita pun lamat-lamat telah mengikis kuatnya jalinan ikatan. Entahlah, apa ini hanya sebuah egoku saja. Namun, ketiadaan pertemuan apalagi pertukaran kesah telah membuatku berprasangka, kita sudah tak berada di frekuensi yang sama.
Semakin terjeda, semakin tertumpuk prasangka yang akhirnya membuncah di dada. Ada rasa sesak yang menyeruak kala sang waktu sekedar mempertemukan kita. Ah, aku malas bertemu denganmu. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghenyak, sepertinya pun kau tak lagi ingin merangkai diriku. Aku tahu itu tak pernah terucap sekalipun olehmu, tapi bagiku, keterjedaan yang terlampau lama membuat prasangkaku berucap begitu.

Aku pun tak lagi paham. Apalagi artinya aku bagimu. Prasangkaku, kau pun tetap bisa berdiri tanpa aku membersamaimu. Kita telah berada dalam rangkaian baris yang berbeda bahkan mungkin terpaut pada berlembar-lembar halaman. Begitulah prasangkaku.

Ah, prasangka-prasangka ini semakin memenuhi pikiranku. Mungkin, karena lemahnya imanku. Barangkali memang benar, tak sekedar jeda, frekuensi kita pun berbeda. Ah, aku pun semakin meracau, kacau, dalam prasangkaanku padamu.

Dalam detakan waktu yang mengiringi kesendirianku, kuratapi keterjedaan ini. Hingga sampai di sebenar-benarnya titik keterpisahan kita, sang waktu pun mempertemukan kita kembali untuk bertukar kesah.  

“Nikmatilah pertemuan ini!” Kata sang waktu.

Kuhanya mengangguk patuh meskipun tetap ada keterberatan hati untuk bertemu denganmu. Tapi, celoteh kesah yang mengalir dari bibir kita, seakan telah menguatkan kembali ikatan jalinan yang sempat tergerogoti. Dalam pertemuan ini, sebuah pertemuan yang terjadi di titik keterpisahan kita, kutelah larutkan semua prasangkaku padamu.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (Qs. Al Hujurat :12)


CANGKIR 09 : KARENA MAWAR BERDURI

Beberapa hari ini aku pun teringat tentang suatu scene dalam salah satu judul FTV jaman dulu. Adegannya tentang seorang ibu dan anak perempuannya di pekarangan rumah yang dihiasi bunga mawar.

“Bunda ingin kamu tumbuh seperti mawar-mawar ini,” kata sang bunda membuka percakapan.

“Kenapa, Bun?”

“Lihatlah, betapa cantiknya mawar ini hingga membuat orang ingin memetiknya. Tapi mawar ini punya duri di batangnya sehingga untuk memetik bunganya harus hati-hati nggak boleh sembarangan.”

“Lalu? Apa hubungannya denganku?”

“Bunda ingin kamu tumbuh seperti mawar ini, cantik, namun tidak sembarang orang bisa memetiknya. Hanya laki-laki yang benar-benar baiklah yang boleh memiliki anak Bunda yang cantik ini.”

Entahlah, FTV ini telah berhasil memasukkan energi magis padaku saat itu. Waktu menonton FTV ini, aku pun berpikir, keren banget filosofi dari bunga mawar ini, ya! Dulu, sebelum aku menonton FTV ini, pandanganku terhadap mawar sempat teracuni kala membaca sebuah puisi berjudul “Mawar Cantik Tapi Berduri”. Puisi itu menceritakan tentang sosok yang kelihatannya cantik tapi justru suka menyakiti hati orang lain.  Nah, begitu nonton film ini, jadi bisa melihat sisi lain yang begitu indah dari sosok bunga mawar.

Sejak itulah, filosofi bunga mawar ini pun memberikan inspirasi baru bagi hidupku. Tumbuh sebagai bunga mawar pun menjadi impian. Sebuah impian yang memantikku untuk mempercantik hati, menjadi cerdas mempesona, dan yang terpenting tak mudah terlena dengan lawan jenis apalagi gonta-ganti pacar.

Namun, filosofi bunga mawar itu pun mulai terlupakan, sejak lama. Bahkan, jika aku ingat-ingat betul, sebenarnya aku hanya sempat menjadikan diriku sebagai bunga mawar namun menanggalkan duri yang seharusnya menjadi pelindungku. Sesungguhnya aku belum paham betul, duri apa yang bisa melindungiku.

Dan setelah perjalanan panjang yang kulalui, tanpa sadar aku telah mengenakan duri pelindungku. Kau tahu, duri apa yang menjadi perisaiku? Ialah duri keimanan yang terwujud dalam keyakinanku untuk mengenakan hijab. Ya, inilah perisai utamaku yang nantinya mampu membawaku mekar menjadi sekuntum mawar. Mawar yang merekah dengan cantiknya, namun tak mudah dipetik oleh seseorang.


CANGKIR 08 : ALLAH TAKKAN MUDAH PERCAYA IMANMU

Sering kali saya mendengar curhatan dari adik-adik yang baru saja memutuskan untuk berubah. Ya,  berubah menjadi superwomen. Eeiits, bukan, bukan berubah layaknya cat woman ataupun sosok pahlawan super ala film hollywood. Superwomen di sini ialah mereka yang memutuskan untuk menyempurnakan diri sebagai wanita muslimah, berhijab!

Ya, superwomen ini mengeluhkan tentang sikap penolakan keluarganya saat mereka memutuskan untuk mengubah penampilan. Keluarga mereka seakan menaruh curiga, jangan-jangan anakku masuk jaringan teroris, jangan-jangan ia ikut NII, islam ekstrim, dan sebagainya. Saya rasa ini hal wajar bagi mereka yang tumbuh di keluarga awam. Apalagi, sebagai orang tua, pasti sangat mengkhawatirkan anak-anaknya terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. Terlebih, media sering memborbardir masyarakat habis-habisan tentang isu golongan islam garis keras dan fanatik. (Ah, sampai sekarang pun saya masih bingung, definisi islam garis keras itu bagaimana?)

Saya pribadi pun pernah mengalaminya, dulu, saat pertama kali mencoba menyempurnakan hijab. Saya ingat sekali, saat itu, lagi hebohnya berita tentang NII. Jelas sekali, tante saya pun ikutan heboh dengan penampilan saya yang tiba-tiba memakai jilbab lebar. Tante saya pun mulai menginterogasi, “Kamu ikut jaringan apa?” Glekkk.

Lain halnya dengan ayah saya. Kebetulan orang tua saya punya toko kelontong. Nah, kalau saya di rumah, pastinya saya bantu-bantu di toko. Otomatislah, karena pembeli itu dari berbagai kalangan, saya pun harus tetap mengenakan hijab. Suatu ketika, saya posisinya sedang tidak mengenakan kerudung saat ada seorang pembeli yang datang ke toko. Otomatis, saya pun mencari kerudung dahulu baru keluar melayani pembeli.

Maka kata ayah saya, “Ngapain tho, pake jilbab, lha wong di rumah kok. Itu lho pembelinya udah nunggu kelamaan.”

Gleekkk. Saya pun hanya terdiam lalu nyelonong pergi.

Yap, saat kita sudah memutuskan untuk menyempurnakan hijab, pasti akan ada banyak ujian berdatangan. Adakalanya orang-orang sekitar akan menunjukkan sikap kontra dari perubahan kita ini. Tapi... hei, bukankah Allah telah mengingatkan kita bahwa Dia takkan mudah percaya dengan perubahan kita begitu saja. Jadi, saat kamu memutuskan untuk berubah dalam kebaikan, maka Allah akan memberikanmu ujian untuk mengetahui apakah kamu benar-benar berniat untuk berubah.

Saat orang-orang sekitarmu memprotes ini-itu atas perubahan penampilanmu, maka peganglah dua hal, kepercayaan Allah dan keluarga (terutama orang tua) kepadamu. Memegang kepercayaan orang tua dengan menunjukkan bahwa perubahan penampilanmu itu pun membawamu pada perubahan sikap yang lebih baik, misal jadi rajin bantu orang tua, jadi lebih menghormati ortu, jadi lebih sayang kakak atau adik, dan sebagainya. Selain itu, tunjukkan bahwa penampilan barumu itu terlihat nyaman buatmu dan berikan kesan bahwa berjilbab itu nggak ribet. Pasti, mereka takkan lagi menaruh curiga terhadapmu atau men-judge-mu jadi lelet karena harus memakai jilbab terlebih dahulu. Dan, yang terpenting adalah berikan pemahaman yang baik dengan bahasa yang bisa mereka terima. Jangan latah menggunakan dalil. Tidak semua orang bisa langsung menerima dalil-dalil yang kamu kemukakan.


Kepercayaan selanjutnya ialah kepercayaan Allah. Kepercayaan ini akan kamu dapat ketika kamu masih bisa istiqomah dalam mengenakan jilbab. Tak mudah goyah dengan penolakan yang ditujukan kepadamu. Insya Allah, dengan memegang kedua kepercayaan ini, orang-orang di sekitarmu lamat-lamat akan mendukung perubahanmu ini. Ingatlah, Allah hanya akan menunjukkan jalan-Nya bagi orang yang bersungguh-sungguh mencari ridlonya dan kesempurnaan pahala itu hanya diberikan kepada orang yang bersabar.