Senin, 30 Juni 2014

CANGKIR 02 : EKSPRESI CINTA YANG MENYIKSA

Ramadan tahun ini terasa lebih lengang tanpa irama petasan.  Anak-anak lebih suka merakit layang-layang aneka bentuk dibandingkan bermain api. Setidaknya, kegiatan ini lebih banyak positifnya. Selain lebih aman karena tidak ada risiko terbakar dan suara yang memekakkan telinga, musim layang-layang ini bisa menjadi ajang pengembangan kreativitas anak-anak. Melihat layang-layang yang mengudara di awang-awang, tetiba teringat dengan kenangan masa kecil. Bukan tentang asyiknya bermain layang-layang tapi tentang hal lain yang bisa terbang pula.

Sewaktu kecil dulu, seusia batuta (baca : dibawah umur tujuh tahun), aku memiliki kebiasaan berburu capung dan kupu-kupu di halaman rumah. Dulu, halaman depan rumah masih dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Jadi, kedua hewan yang tergolong insekta ini kerap sekali singgah di halaman. Mereka termasuk insekta yang cantik dengan kedua sayap aneka warna. Itulah hal yang mempesonaku.

Lalu, bagaimana caraku memburunya? Biasanya, aku menggunakan plastik ukuran sedang berwarna bening yang diikatkan pada patahan ranting pohon. Nah, setiap aku berhasil menangkap seekor capung (lebih sering menangkap capung daripada kupu-kupu), aku pun mengaitkan benang jahit dibagian ekor ataupun badannya.  Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Yang jelas, naluri kanak-kanakku sama sekali tak bermaksud menyakiti si capung. Aku suka capung, mungkin itu caraku untuk memilikinya.

Apa yang kulakukan selanjutnya? Aku akan memegang ujung tali yang lain seolah-olah menerbangkan sang capung. Tentu, tindakanku ini melukai sang capung. (maaf ya, pung L). Ya,  tindakanku membuat sayap capung patah ataupun ekornya putus. Dan, akhirnya... matilah ia.

Lain halnya dengan cerita dari seorang teman. Keponakannya (masih kanak-kanak) baru saja mendapat hewan peliharaan baru yang menggemaskan. Nah, si keponakan ini pun senangnya bukan main mendapat peliharaan baru. Namun, tak sampai selang sebulan, hewan itu pun mati. Menurut cerita, keponakan temanku itu sangat gemas dengan peliharaannya, sering digendong, diremas-remas. Dan, entah seperti apa lagi perlakuannya hingga menyebabkan hewan lucu itu meninggal.

Anak-anak memang belum paham bagaimana cara memperlakukan apa yang disayanginya dengan baik. Mereka berada di masa tumbung-kembang dan belajar tentang lingkungan sekitar. Jadi, ketika mereka salah memperlakukan hewan kesayangan hingga menyebabkan hewan tersebut tersakiti bahkan meninggal, kita hanya bisa membuat pemakluman, namanya juga anak-anak.

Lalu, apakah kita yang dewasa ini sudah bisa memperlakukan apa yang disekitar kita dengan baik? Jangan-jangan kita pun masih bersikap layaknya kanak-kanak yang tak mampu memperlakukan orang lain dengan baik dan mengunggulkan ego sendiri.

“Aku melakukan ini demi kebaikanmu” atau “Ini yang terbaik untukmu, kamu pasti bahagia.”

Kita tak bisa menghakimi sesuatu yang kita lakukan itu yang terbaik tanpa mempertimbangkan  perasaan orang lain serta merunut kaidah agama. Jika orang bilang, “perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan” maka aku lebih suka memilih, “perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka harus diperlakukan”. Memperlakukan orang lain sebagaimana diri ini ingin diperlakukan adalah suatu bentuk keegoisan. Kita memandang kebahagiaan dan kenyamanan orang lain dengan ukuran diri sendiri. Padahal, setiap orang memiliki bentuk perasaan yang berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan. Saya pun tak setuju jika orang bilang, “perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan”. Karena, tak semua yang diingini manusia itulah yang terbaik bagi diri mereka.  Maka memperlakukan orang lain sebagaimana mereka harus diperlakukan adalah pilihan yang paling bijak. Kata ‘harus’ menunjukkan adanya suatu pakem-pakem yang mendasari suatu perlakuan. Pakem-pakem inilah yang nantinya akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik sedangkan memperlakukan seseorang sesuai dengan keinginannya hanyalah akan membuat sifat buruk senantiasa bertengger dalam diri seseorang. 

Minggu, 29 Juni 2014

CANGKIR 01 : MENJADI TUAN RUMAH

Konon, ketika tamu istimewa bertandang, tuan rumah akan bersiap diri dengan pakaian yang terbaik, menata rumah dengan indah dan menyiapkan hidangan yang spesial. Lalu, bagaimana jika yang bertandang itu bulan ramadan?

Ketika hari-hari terlewati hingga satu tahun qomariyah penuh, pertemuan itu pun terulang kembali. Ramadan kembali bertandang di akhir bulan Juni. Ya, sebuah akhir untuk awal yang spesial. Gembirakah kita menyambutnya? Sudah cukupkah persiapan yang telah dilakukan sebelumnya? Tidak! Tidak cukup bagi saya. Bukan karena tak sempat, lebih tepatnya saya tak menyempatkan diri untuk melakukan persiapan. Terlalu lena rupanya. Sebab kelenaan ini pulalah yang akhirnya membuat keterlambatan dalam menuliskan target-target ramadan. Sebenarnya, beberapa target ramadan telah termaktub dalam otak. Tapi, bukankah manusia tempatnya lupa? Maka perlulah untuk menuliskannya sebagai pengingat.

Merancang suatu target ramadan di hari pertama merupakan suatu keterlambatan. Bagaimana mungkin merancang sesuatu di hari H? Namun, tak ada kata terlambat dalam upaya kebaikan dan perbaikan diri, bukan? Hal terpenting dalam suatu target bukanlah kapan kita merancangnya, tetapi bagaimana suatu target itu bisa dilaksanakan sampai akhir. Maksudnya, tidak hanya sekedar tercapai tapi tetap berusaha untuk menjaga kesitiqomahan diri untuk selalu berada bahkan melampaui target tersebut di pasca ramadan.

Nah, untuk mencapai hal tersebut, hal terpenting lainnya adalah berupaya membersihkan diri dari segala dosa. Seorang tuan rumah haruslah dalam kondisi bersih dan segar kala menyambut tamunya. Begitu pula kita dalam menyambut ramadan. Kita haruslah mempersiapkan diri dengan bertobat. Pertobatan atas perilaku terhadap sesama makhluk hidup ataupun dengan sang pencipta. Ketika kita menyakiti seseorang, Allah takkan mengampuni kita sebelum kita meminta maaf kepada orang yang tersakiti. Maka, sebelum datangnya ramadan, hendaklah kita mengirimkan permohonan maaf kepada keluarga, teman, dan saudara. Barangkali, ada perilaku ataupuan ucapan yang tanpa kita sadari telah menyakiti hati orang lain.

Dosa yang kita lakukan itu ibarat suatu bercak hitam. Dosa kecil pun layaknya bercak kecil sedangkan dosa besar pun layaknya bercak yang besar-besar. Alangkah bahayanya jika bercak-bercak hitam itu akhirnya menodai hati kita. Ketika hati telah ternoda, ia pun akan terjangkit penyakit. Penyakit inilah yang akhirnya menghalangi kita dari rahmat Allah. Apa akibatnya? Allah akan memberikan kesempitan untuk kita. Kesempitan itu banyak sekali macamnya, entah berupa kelenaan, kesulitan dalam menyempatkan untuk beribadah, kemalasan, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, Rasulullah pun mengingatkan kita untuk mengawali ramadan ini dengan pertobatan. Karena hati yang bersih akan mengantarkan kita pada kekhusyukan ibadah selama ramadan.


Mari kita sempurnakan diri kita dalam menyambut ramadan dengan saling memaafkan. Maka, tak ada hal yang patut terucap di hari pertama ramadan ini selain, mohon maaf atas segala khilaf yang telah menyakiti hati kalian. Maaf.

Rabu, 21 Mei 2014

Buku Pertama

Alhamdulillah... Ini buku pertama. walaupun baru sekaliber antologi, dan mungkin bukan dari event yang berskala besar. Setidaknya, namaku terpampang di cover depan, hehe.


Telah Terbit 
Judul Buku : Ketika Cinta Memanggil #2 (sebuah antologi puisi)
Penulis : Wien, Igha Melysa Putri, dkk

"Pikirku kamulah cinta
Memanggil merdu dalam deru ombak
Namun semakin kuselami
ronggaku tersedak, nafasku sesak

Pikirku kamulah cinta
Berkilauan indah menebas batas
Namun semakin kumembumbung tinggi
Cahayamu mambakar kulit ari

........"
 (Kutipan Kamu, ENGKAU, dan Cinta)

Selengkapnya lihat di http://www.asrifa.com/2014/05/ketika-cinta-memanggil-2.html atau beli bukunya ya... hehe #salamnarsis ! Maklum pemula :D.

PUISI KEJAR DEADLINE

Jadi, ceritanya tentang sebuah puisi yang aku bacakan saat wisuda komunitas Soto Babat. Memang, dua minggu sebelumnya, setiap peserta sudah diminta untuk membuat sebuah puisi ataupun dongeng tentang perjalanan selama mengikuti sekolah Soto Babat. Tapi karena belum sempat (lebih tepatnya tidak menyempatkan diri), sampai detik keberangkatan menuju tempat wisuda, aku pun belum membuatnya.  Sempat membuat beberapa coretan di kertas, namun baru dapat satu bait, ideku mandeg. Ya, sudah. Akhirnya, sembari melihat teman-teman (sesama peserta) membacakan karya mereka, setelah coret sana dan sini, jadilah puisi ini. #curhat #ketahuan

Nah, judul puisinya adalah “Pada Sebuah Pintu”. Ini pun baru terpikir detik-detik sebelum bangkit menuju podium (halah, emangnya ada podiumnya? Wkwkwk). Jadi, ya, harap maklum kalau puisinya kurang greget. Hehe... (lagi-lagi pemakluman)

PADA SEBUAH PINTU

Kuterpaku pada sebuah pintu
Lama sangat aku termangu
Kupandangi lekat-lekat,
terukirkan serangkai aksara
Kueja perlahan
SE-LA-MAT DA-TANG!

Kuterpaku pada sebuah pintu
Lama sangat aku termangu
Entah, fikiranku berkecamuk
Akankah kumembukanya?

Kuterpaku pada sebuah pintu
Dalam bayangku,
Begitu banyak aksara yang menari dibaliknya
Ah, haruskah kumembukanya?

Kuterpaku pada sebuah pintu
Pada setengah tahun yang lalu
Dan kini...
kuterlahir darinya



Rabu, 05 Februari 2014

ETIKA BERILMU


Suasana di ruang kuliah, EB. 101 ini begitu pengap dan panas. Entah karena udara pagi ini yang menyengat ke dalam ruangan atau otak penghuni ruangannya yang memanas. Padahal ruangan ini difasilitasi 3 buah AC, masing-masing dipajang di muka dan dua sisi ruangan. Suhu 17ºC. Tetap tidak mempan. Mata kuliah praktikum auditing ini begitu menguras otak. Mata kuliah dua SKS pun serasa empat SKS. Mahasiswa harus berkutat menganalisis laporan keuangan, melakukan penelusuran ke jurnal-jurnal, menelisik adakah kecurangan atau ketidakwajaran. Bak auditor profesional. Hingga sesi kelas ini berakhir, mereka baru bisa bernafas lega. Udara segar datang seketika.

 “Jadi, mana oleh-oleh dari Jogja?” Dewi menghampiri Rosa yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas.

“Oleh-oleh apa? Aku dua hari di Jogja bukan untuk jalan-jalan. Jadi, tidak sempat untuk belanja oleh-oleh.”

“Ah, kamu nih... kalau begitu, bagaimana dengan trainingnya? Seru, nggak? Hm, padahal aku pengen ikut tapi waktunya tidak tepat.”

“Seharusnya seru sih tapi menurutku biasa aja.”

“kok bisa?”

“hm, nggak tahu ya, mungkin karena dari awal aku memang tidak ada niat untuk berangkat, hanya setengah hati. Jadi, beginilah.... Hanya lelah yang didapat.”

Rosa berjalan meninggalkan ruangan praktikum. Dewi mengikutinya keluar, lalu berbelok menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Padahal banyak, lho, yang mau ikut training itu,” Dewi diam sejenak, “kalau kamu tidak ada niat untuk ikut, kenapa kamu mendaftarkan diri jadi peserta?”

“Terpaksa. Yah, kamu pasti tahulah, Dew.”

“Sayang, ya, seharusnya kamu bisa mendapatkan ilmu dari orang-orang keren. Hm, jadi teringat dengan nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hah, siapa itu? baru dengar sekarang. Eh, duduk di situ, yuk, ada kursi kosong.”
Mereka berdua pun berjalan menuju ke kursi-kursi yang kosong. Gedung B lantai dua memang terdapat spot-spot khusus yang biasa digunakan mahasiswa untuk sekedar berdiskusi atau hanya sekedar mengobrol ringan.

“Ibnu Hazm itu intelektual Andalusia yang sangat popular sekaligus seorang pemikir Islam. Seorang pecinta ilmu. Ia seorang pembelajar yang gigih, tangguh, dan tak kenal lelah.Layaknya ilmuwan islam lainnya di jaman itu. Beliau selalu berpesan, jika engkau menghadiri majelis ilmu maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala.

“Jadi, maksudmu, aku tidak seharusnya ikut training?”

“Bukan begitu, maksudku.... Ah, mengapa pikiranmu sesempit itu?”

“Lalu, bisakah kamu membuatnya lebih mudah untuk aku mengerti?”

“Oke. Jadi, begini,“Dewi mencoba menjelaskan,” ketika kamu mengikuti training, seminar, kajian, dan semacamnya, kamu harus meniatkan dirimu untuk memperoleh ilmu serta menghadirkan seluruh raga, hati, dan pikiranmu. Raganya hadir tapi hati dan pikirannya absen, ya, sama saja. Kamu tidak akan memperoleh apa-apa. Lalu, bagaimana jika kita merasa belum sepenuh hati untuk datang di acara tersebut serta belum ada kesungguhan niat untuk memperoleh ilmu? Apa iya, memutuskan untuk tidak hadir, begitu saja? Padahal akan ada banyak hal yang bisa diperoleh di acara tersebut, hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus memaksa diri kita untuk hadir, terlebih jika acara itu menyajikan kemanfaatan, salah satunya ilmu. ”

“Jadi, intinya meluruskan niat, begitu?”
“Ya, kembali lagi ke konsep yang tercantum dalam hadits Arba’in yang pertama.”
Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang diniatkan.
“Yap, betul sekali. Nasihat dari Ibnu Hazm memang menjurus ke situ. Jika kita hadir di majelis ilmu maka niatkanlah untuk memperoleh ilmu dan pahala. Ketika kita memang berniat untuk memperoleh ilmu maka insyaa Allah kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.”
“Oke, aku mengerti sekarang.” Rosa tampak manggut-manggut.
“Nah, selain itu, ada dua hal lagi yang perlu dihindari dalam mendatangi majelis ilmu. Pertama, bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu. Maksudnya, sebagai seorang pembelajar jangan pernah merasa, ‘ah aku sudah pernah mendengar mengenai hal ini’ karena hal ini akan mengurangi semangat dalam mempelajari ilmu. Ketika yang disampaikan telah kita dengar sebelumnya maka untuk kedua kalinya kita perlu belajar memahami hal tersebut. Selanjutnya, mengevalusi diri, apakah hal tersebut sudah kita terapkan di keseharian kita?” Dewi melanjutkan penjelasannya,” Kedua, jangan mencari-cari kesalahan dari guru untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, mereka tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya. Begitulah nasihat dari Ibnu Hazm.”
“Hm, super sekali! Aku harus banyak-banyak evaluasi diri, nih. Terkadang aku suka mencari  pembenaran-pembenaran untuk tidak hadir. Berdalih daripada niatnya nggak lurus mending nggak dateng.“
Referensi :
d1.islamhouse.com.2010. Hadist Arba’in Nawawiyah.Nawawi, Muhyidin Yahya.30 Januari 2014

Zaifori, Ahmad dan Sulthan Hadi. 2012.”Ibnu Hazm, Tegar Mendakwahkan syariat Ketika Banyak Ulama yang Diam”. Dalam Tarbawi, 14 Juni 2012

ETIKA BERILMU


Suasana di ruang kuliah, EB. 101 ini begitu pengap dan panas. Entah karena udara pagi ini yang menyengat ke dalam ruangan atau otak penghuni ruangannya yang memanas. Padahal ruangan ini difasilitasi 3 buah AC, masing-masing dipajang di muka dan dua sisi ruangan. Suhu 17ºC. Tetap tidak mempan. Mata kuliah praktikum auditing ini begitu menguras otak. Mata kuliah dua SKS pun serasa empat SKS. Mahasiswa harus berkutat menganalisis laporan keuangan, melakukan penelusuran ke jurnal-jurnal, menelisik adakah kecurangan atau ketidakwajaran. Bak auditor profesional. Hingga sesi kelas ini berakhir, mereka baru bisa bernafas lega. Udara segar datang seketika.

“Jadi, mana oleh-oleh dari Jogja?” Dewi menghampiri Rosa yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas.

“Oleh-oleh apa? Aku dua hari di Jogja bukan untuk jalan-jalan. Jadi, tidak sempat untuk belanja oleh-oleh.”

“Ah, kamu nih... kalau begitu, bagaimana dengan trainingnya? Seru, nggak? Hm, padahal aku pengen ikut tapi waktunya tidak tepat.”

“Seharusnya seru sih tapi menurutku biasa aja.”

“kok bisa?”

“hm, nggak tahu ya, mungkin karena dari awal aku memang tidak ada niat untuk berangkat, hanya setengah hati. Jadi, beginilah.... Hanya lelah yang didapat.”
Rosa berjalan meninggalkan ruangan praktikum. Dewi mengikutinya keluar, lalu berbelok menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Padahal banyak, lho, yang mau ikut training itu,” Dewi diam sejenak, “kalau kamu tidak ada niat untuk ikut, kenapa kamu mendaftarkan diri jadi peserta?”

“Terpaksa. Yah, kamu pasti tahulah, Dew.”

“Sayang, ya, seharusnya kamu bisa mendapatkan ilmu dari orang-orang keren. Hm, jadi teringat dengan nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hah, siapa itu? baru dengar sekarang. Eh, duduk di situ, yuk, ada kursi kosong.”

Mereka berdua pun berjalan menuju ke kursi-kursi yang kosong. Gedung B lantai dua memang terdapat spot-spot khusus yang biasa digunakan mahasiswa untuk sekedar berdiskusi atau hanya sekedar mengobrol ringan.

“Ibnu Hazm itu intelektual Andalusia yang sangat popular sekaligus seorang pemikir Islam. Seorang pecinta ilmu. Ia seorang pembelajar yang gigih, tangguh, dan tak kenal lelah.Layaknya ilmuwan islam lainnya di jaman itu. Beliau selalu berpesan, jika engkau menghadiri majelis ilmu maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala.

“Jadi, maksudmu, aku tidak seharusnya ikut training?”

“Bukan begitu, maksudku.... Ah, mengapa pikiranmu sesempit itu?”

“Lalu, bisakah kamu membuatnya lebih mudah untuk aku mengerti?”

“Oke. Jadi, begini,“Dewi mencoba menjelaskan,” ketika kamu mengikuti training, seminar, kajian, dan semacamnya, kamu harus meniatkan dirimu untuk memperoleh ilmu serta menghadirkan seluruh raga, hati, dan pikiranmu. Raganya hadir tapi hati dan pikirannya absen, ya, sama saja. Kamu tidak akan memperoleh apa-apa. Lalu, bagaimana jika kita merasa belum sepenuh hati untuk datang di acara tersebut serta belum ada kesungguhan niat untuk memperoleh ilmu? Apa iya, memutuskan untuk tidak hadir, begitu saja? Padahal akan ada banyak hal yang bisa diperoleh di acara tersebut, hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, kita harus memaksa diri kita untuk hadir, terlebih jika acara itu menyajikan kemanfaatan, salah satunya ilmu. ”

“Jadi, intinya meluruskan niat, begitu?”

“Ya, kembali lagi ke konsep yang tercantum dalam hadits Arba’in yang pertama.”

Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang diniatkan.

“Yap, betul sekali. Nasihat dari Ibnu Hazm memang menjurus ke situ. Jika kita hadir di majelis ilmu maka niatkanlah untuk memperoleh ilmu dan pahala. Ketika kita memang berniat untuk memperoleh ilmu maka insyaa Allah kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut.”

“Oke, aku mengerti sekarang.” Rosa tampak manggut-manggut.

“Nah, selain itu, ada dua hal lagi yang perlu dihindari dalam mendatangi majelis ilmu. Pertama, bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu. Maksudnya, sebagai seorang pembelajar jangan pernah merasa, ‘ah aku sudah pernah mendengar mengenai hal ini’ karena hal ini akan mengurangi semangat dalam mempelajari ilmu. Ketika yang disampaikan telah kita dengar sebelumnya maka untuk kedua kalinya kita perlu belajar memahami hal tersebut. Selanjutnya, mengevalusi diri, apakah hal tersebut sudah kita terapkan di keseharian kita?” Dewi melanjutkan penjelasannya,” Kedua, jangan mencari-cari kesalahan dari guru untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, mereka tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya. Begitulah nasihat dari Ibnu Hazm.”

“Hm, super sekali! Aku harus banyak-banyak evaluasi diri, nih. Terkadang aku suka mencari  pembenaran-pembenaran untuk tidak hadir. Berdalih daripada niatnya nggak lurus mending nggak dateng.“


Referensi :

d1.islamhouse.com.2010. Hadist Arba’in Nawawiyah.Nawawi, Muhyidin Yahya.30 Januari 2014

Zaifori, Ahmad dan Sulthan Hadi. 2012.”Ibnu Hazm, Tegar Mendakwahkan syariat Ketika Banyak Ulama yang Diam”. Dalam Tarbawi, 14 Juni 2012

Pertaruhan


Sial! Entah sampai kapan aku harus berada di arena petarungan ini. Berawal dari pemukiman kumuh, aku tumbuh dan berkembang bersama mereka. Lebih tepatnya di bawah kungkungan mereka. Dandi dan genk-nya ibarat sekelompok raksasa kurawa yang haus akan kekuasaan. Berhasrat mencengkeramku dan mengusirku dari dunia ini. Tidakkah Dandi sadar bahwa aku dan dia masih ada ikatan darah? Bahwa aku seharusnya menjadi satu-satunya saudara yang harus dilindunginya. Oh, Tuhan....

Dua puluh tahun pun berlalu. Ketika aku mulai hengkang dan bernafas kembali, pergi mencari kehidupan baru, Dandi datang kepadaku. Tatapan matanya masih sama bahwa aku tak layak untuk mendapatkan apapun di dunia ini termasuk jabatan direktur perusahaan tekstil di Solo. Perusahaan yang kubangun dengan keringatku.

“Randi, lama sekali tidak bertemu denganmu. Lihatlah, betapa suksesnya dirimu sekarang,” Dandi tersenyum, menyeringai, “Aku punya penawaran untukmu, sebuah pertaruhan. Kuyakin kau pasti menyukainya....”


Pertaruhan! Kata ini selalu menyihirku menjadi sosok Yudhistira, gila pertaruhan. Sulit bagiku menolaknya. Harga diri! Itulah yang aku junjung tinggi. Namun, kali ini perusahaanku yang akan jadi taruhannya. Jika aku kalah maka aku seperti pandhawa yang terusir dari tanah Indraprastha lalu mengembara ke hutan, hidup dalam penyamaran. Aku tak mau seperti itu. Kan kumenangkan pertaruhan ini. Karena aku bukan sekedar Yudistira melainkan Pandawa.