Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Mei 2014

Buku Pertama

Alhamdulillah... Ini buku pertama. walaupun baru sekaliber antologi, dan mungkin bukan dari event yang berskala besar. Setidaknya, namaku terpampang di cover depan, hehe.


Telah Terbit 
Judul Buku : Ketika Cinta Memanggil #2 (sebuah antologi puisi)
Penulis : Wien, Igha Melysa Putri, dkk

"Pikirku kamulah cinta
Memanggil merdu dalam deru ombak
Namun semakin kuselami
ronggaku tersedak, nafasku sesak

Pikirku kamulah cinta
Berkilauan indah menebas batas
Namun semakin kumembumbung tinggi
Cahayamu mambakar kulit ari

........"
 (Kutipan Kamu, ENGKAU, dan Cinta)

Selengkapnya lihat di http://www.asrifa.com/2014/05/ketika-cinta-memanggil-2.html atau beli bukunya ya... hehe #salamnarsis ! Maklum pemula :D.

PUISI KEJAR DEADLINE

Jadi, ceritanya tentang sebuah puisi yang aku bacakan saat wisuda komunitas Soto Babat. Memang, dua minggu sebelumnya, setiap peserta sudah diminta untuk membuat sebuah puisi ataupun dongeng tentang perjalanan selama mengikuti sekolah Soto Babat. Tapi karena belum sempat (lebih tepatnya tidak menyempatkan diri), sampai detik keberangkatan menuju tempat wisuda, aku pun belum membuatnya.  Sempat membuat beberapa coretan di kertas, namun baru dapat satu bait, ideku mandeg. Ya, sudah. Akhirnya, sembari melihat teman-teman (sesama peserta) membacakan karya mereka, setelah coret sana dan sini, jadilah puisi ini. #curhat #ketahuan

Nah, judul puisinya adalah “Pada Sebuah Pintu”. Ini pun baru terpikir detik-detik sebelum bangkit menuju podium (halah, emangnya ada podiumnya? Wkwkwk). Jadi, ya, harap maklum kalau puisinya kurang greget. Hehe... (lagi-lagi pemakluman)

PADA SEBUAH PINTU

Kuterpaku pada sebuah pintu
Lama sangat aku termangu
Kupandangi lekat-lekat,
terukirkan serangkai aksara
Kueja perlahan
SE-LA-MAT DA-TANG!

Kuterpaku pada sebuah pintu
Lama sangat aku termangu
Entah, fikiranku berkecamuk
Akankah kumembukanya?

Kuterpaku pada sebuah pintu
Dalam bayangku,
Begitu banyak aksara yang menari dibaliknya
Ah, haruskah kumembukanya?

Kuterpaku pada sebuah pintu
Pada setengah tahun yang lalu
Dan kini...
kuterlahir darinya



Rabu, 13 Februari 2013

Mimpi Kita


Pernah ada satu masa
Aku, kamu, kita, saling menuliskan mimpi-mimpi
Salah satu dari kita pun berseru
 “mari kita gantung mimpi ini setinggi langit,
Kalau pun jatuh, setidaknya ia kan jatuh di atas bintang-bintang”

Lalu kita pun mengejar mimpi-mimpi itu
Terkadang saling bersaing
Namun menyemangati satu sama lain
Saling menyeka keringat dan air mata
Hingga di antara kita telah mencapai titik di mana mimpi itu digantung
Namun yang lain?
Ada di antara kita yang mencapai titik baru
Bukan tempat di mana mimpinya pernah digantungkan
 sama sekali bukan
Awalnya sedikit tak paham kenapa jalan yang ditempuh bermuara berbeda
Ternyata Langit, tempat menggantungkan mimpi itu, luas adanya
Hosh...

Sekarang...
Kita telah berdiri di titik yang berbeda...
Masihkah kita bersemangat dengan mimpi-mimpi itu?
Aku sendiri?
Entahlah...
Aku merindukan semangat kita..
Merindukan masa-masa perjuangan kita..
Karena di titikku yang baru ini
Aku sedang berjuang sendiri


Semarang, 14 febrauri 2013
sebuah kegelisahan yg mendera
tentang mimpi-mimpi